Industri Batubara Indonesia 2013 (8 Februari 2013)

Meskipun harga batubara pada tahun 2012 dapat dikatakan turun cukup tajam akibat menurunnya permintaan dan tekanan terhadap harga akibat sentimen perekonomian global, produksi di tahun 2012 tetap meningkat. Baik harga batubara spot Newcastle yang menjadi patokan harga batubara thermal maupun rata – rata HBA Indonesia di tahun 2012 masing – masing telah turun 21,6% dan 19,3% di bandingkan 2011. Namun produksi batubara Indonesia tetap meningkat 8,9% menjadi 386 juta ton dibandingkan dengan tahun 2011 yang hanya 353 juta ton. Produksi 2012 tersebut masih sebagian besar di ekspor dengan proporsi mencapai 82% dari total produksi

Prediksi di tahun 2013 ini, produksi batubara hanya akan meningkat sebesar 1,6% menjadi 391 juta ton. Hal ini seiring dengan prediksi harga batubara yang masih akan lemah hingga semester I  tahun ini. Hal penting yang perlu diperhatikan juga adalah proporsi produksi dari IUP yang diproyeksikan akan turun signifikan dibandingkan dengan tahun – tahun sebelumnya. Penambang – penambang skala kecil cenderung memiliki biaya operasional yang tinggi, ketergantungan kepada pihak ketiga (kontraktor jasa pertambangan atau leasing alat berat) cukup besar dan penjualannya lebih ke spot market sehingga jarang memiliki kontrak jangka panjang. Dengan harga yang cukup rendah saat ini, penambang – penambang kecil sulit memperoleh margin yang cukup, tidak seperti pada saat harga rata – rata 2011 yang cukup tinggi. Jika melihat pertumbuhan produksi historis, sejak 2010 produksi IUP telah meningkat 169% dari hanya 45 juta ton menjadi 121,1 juta ton di 2012, sedangkan produksi PKP2B hanya meningkat 15% dari 230,2 juta ton menjadi 264,8 juta ton. Proporsi produksi IUP terhadap total produksi pun terus meningkat, dari yang hanya 16,4% di tahun 2010, menjadi 31,4% dari total produksi pada tahun 2012. Namun di tahun 2013 ini, belum kembalinya harga batubara ke level rata – rata 2011 dan penurunan harga ini telah berlangsung sejak April 2012, diprediksikan produksi IUP akan menurun 25,7% menjadi 90 juta ton saja. Peningkatan produksi akan didorong oleh PKP2B dan PTBA yang diproyeksikan akan tumbuh 13,7% dibandingkan tahun 2012.

Beberapa isu regulasi dari pemerintah juga diprediksikan akan memberatkan industri batubara di tahun 2013 ini. Jika dilihat dari aspek regional, permasalahan dari Sumatera Selatan yakni adanya Perda yang mewajibkan truk – truk angkutan batubara menggunakan jalan khusus angkutan batubara dinilai memberatkan pengusaha batubara di daerah tersebut karena infrastruktur jalan yang disediakan masih belum siap padahal aturan sudah diberlakukan. Dari Kalimantan Timur, Pemerintah Daerah Kaltim mengajukan surat permohonan kepada kementerian ESDM untuk dapat mengendalikan jumlah produksi batubara didaerahnya dan menerbitkan surat edaran untuk moratorium IUP baru. Meskipun pengendalian akan sulit dikabulkan karena hal tersebut menyangkut pendapatan nasional tidak hanya pendapatan daerah, adanya hal tersebut menunjukkan pemerintah daerah mulai berupaya menekan laju produksi di daerahnya. Dari regulasi skala nasional, adanya wacana untuk menaikkan tarif pinjam pakai kawasan hutan dan renegosiasi kontrak PKP2B maupun KK di Minerba diperkirakan akan meningkatkan biaya perusahaan pertambangan batubara. Selain itu penyamaan royalti antara IUP dengan PKP2B akan meningkatkan biaya dari perusahaan pertambangan batubara khususnya IUP karena royalti yang dibayarkan IUP selama ini lebih rendah dibandingkan dengan PKP2B.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s