Economy

Perbaikan Defisit Neraca Pembayaran Indonesia (17 Juli 2012)

(Foto diambil dari http://www.citraindonesia.com)

Defisit neraca perdagangan Indonesia semakin meningkat akibat laju ekspor yang terus melambat. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif mengakibatkan impor masih mengalami peningkatan baik untuk pemenuhan bahan baku, impor barang modal maupun konsumsi sehingga diprediksi defisit neraca perdagangan Indonesia akan melebar. BPS mencatat defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar US$ 641,1 Juta pada bulan April lalu. Defisit yang pertama terjadi sejak Juli 2010 itu berlanjut di bulan Mei sebesar US$485,9 juta. Defisit 2 bulan berturut – turut  merupakan pertama kali terjadi sejak krisis tahun 2008.

Sejak 2007 hingga 2011, gejala akan terjadinya defisit neraca berjalan kita sebenarnya sudah  terprediksi. Pada saat itu, laju pertumbuhan impor Indonesia berada di atas laju pertumbuhan ekspornya. Impor Indonesia tumbuh signifikan dengan rata – rata 29,7% per tahunnya sedangkan ekspor hanya tumbuh rata – rata 17,4% jauh dibawah pertumbuhan impor. Produk impor utama Indonesia diantaranya minyak dan gas, mesin dan peralatan mekanik, mesin dan peralatan listrik, besi dan baja, kendaraan bermotor dan komponennya, plastik dan barang dari plastik, bahan kimia organik, dan serealia. Pertumbuhan impor terbesar berasal dari pupuk, mesin dan peralatan listrik yang masing – masing tumbuh 80,1% dan 60,4% rata – rata setiap tahun.

Selain itu, hal yang memperburuk neraca perdagangan kita adalah menurunnya harga komoditas dan menurunnya permintaan ekspor akibat dari melambatnya pertumbuhan negara – negara tujuan ekspor Indonesia seperti China, Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan, India, Malaysia dan Taiwan yang merupakan efek domino dari adanya krisis di Eropa.  Lebih jauh lagi, ketergantungan pada pasar Jepang, China, Singapura, AS dan Korea Selatan semakin tinggi. Tahun 2011, ekspor menuju lima negara tersebut mencapai 53,1% dari total ekspor Indonesia. Hal ini mengakibatkan ketergantungan permintaan ekspor kita pada kondisi ekonomi negara – negara tersebut tinggi. Padahal kondisi ekonomi negara – negara tersebut juga terkena dampak dari krisis di Eropa.

Jika dilihat secara keseluruhan melalui nilai neraca pembayaran Indonesia, adanya tekanan terhadap neraca berjalan tentu mempengaruhi neraca pembayaran Indonesia. Meskipun begitu, menurut Gubernur BI, Darmin Nasution, arus penanaman modal asing secara langsung (Foreign Direct Investment) diprediksi masih akan mengalir ke dalam negeri. Arus portofolio modal asing juga terus membaik sehingga ada surplus dari transaksi modal dan finansial. Selain itu, tekanan terhadap neraca berjalan kita diprediksi akan sedikit berkurang di kuartal ke-3 tahun 2012 karena penurunan ekspor akan beriringan juga dengan penurunan impor bahan baku sehingga ada harapan neraca pembayaran Indonesia akan membaik kembali. [ah]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s