Economy

Lifting Minyak Indonesia Terus Menurun (18 Oktober 2012)

Target lifting minyak Indonesia yang sebesar 900 ribu barel per hari (bph) dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2013 hingga saat ini masih diragukan. Hal ini didasari oleh realisasi lifting minyak yang hingga saat ini belum mencapai target. Sampai pada triwulan III, posisi lifting minyak Indonesia baru mencapai kisaran 870 ribu bph, masih jauh dibawah target APBN-P 2012 yang sebesar 930 ribu bph. Dengan asumsi laju penurunan produksi minyak sekitar 3 – 4% per tahun tentu target 2013 akan sulit di capai jika posisi lifting minyak Indonesia tetap berada di kisaran 870 ribu per barel. Bahkan menurut beberapa KKKS, lifting minyak Indonesia tahun depan hanya mencapai 846 ribu bph.

Produksi  minyak Indonesia pada September 2012 hanya mencapai 236,6 juta barel. Secara kumulatif produksi ini turun 2,9% dibandingkan dengan September 2011 yang mencapai 243,6 juta barel. Penurunan produksi minyak memang tidak bisa dihindari karena memang umur lapangan minyak Indonesia yang sudah tua dan berbagai permasalahan teknis produksi. Hingga triwulan III 2012, rata – rata pencapaian seluruh KKKS hanya mencapai 69,50% dengan target 930 ribu bph. Jika dibandingkan dengan tahun 2011, dengan target 945 ribu bph, rata – rata pencapaian target KKKS pada triwulan III mencapai 70,61%. Performa enam besar KKKS terbesar di 2011, yakni Chevron Pacific Indonesia – Rokan, ConocoPhilips Natuna Sea Area Blok B, Inpex Corporation, Total E&P Indonesie, CNOOC (Southeast Sumatera), dan Pertamina Hulu Energi ONWJ yang memproduksi hampir 63% minyak di 2011, semuanya mengalami penurunan produksi di 2012. Rata – rata penurunan produksi dari KKKS tersebut mencapai 12,5% secara kumulatif di triwulan III 2012, dengan penurunan produksi tertajam dialami oleh Total E&P Indonesie yang mencapai 26,7%.

Menurut BP Migas, Penyebab turunnya produksi minyak ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, tidak kembalinya produksi Cheron Pacific Indonesia akibat pecahnya pipa TGI serta kebakaran FSO Lentera Bangsa di CNOOC. Kedua, efek tertundanya keputusan operator baru saat pengalihan operator blok WMO dari Kodeco ke PHE WMO. Ketiga penurunan yang tinggi pada Lapangan Tunu dan Peciko di Blok Mahakam serta beberapa lain. Keempat, kerusakan pada beberapa fasilitas produksi KKKS.

Untuk mengejar target di tahun 2012, pemerintah menerapkan strategi yakni mengusahakan pengembalian produksi dari potensi produksi yang hilang saat ini yakni sekitar 50 ribu bph, terutama dari penghentian produksi yang tidak direncanakan (unplanned shutdown).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s