Economy

Perlambatan Ekonomi China Diperkirakan Berlanjut Hingga 2013 (25 September 2012)

Beberapa indikator menunjukkan perekonomian China masih terus melambat. Hingga Agustus 2012, indeks manufaktur China masih di angka 49,2. Angka ini merupakan angka terendah dalam 9 bulan terakhir dan menurun dibandingkan Juli, di angka 50,2. Indeks yang berada dibawah angka 50 mengindikasikan terjadinya kontraksi output industri manufaktur. Penurunan pertumbuhan ekspor China yang tajam selama beberapa bulan terakhir dan pelemahan ekonomi global memaksa sektor manufaktur China terutama yang berorientasi ekspor memangkas tenaga kerja sehingga berpengaruh kepada output manufaktur.  Selain itu, ekonomi China tumbuh sebesar 7,6% pada kuartal II secara year-on-year, merupakan pertumbuhan paling rendah dalam 3 tahun terakhir dan China telah mengalami penurunan pertumbuhan selama enam kuartal berturut – turut. Pertumbuhan tertinggi China terjadi di kuartal IV 2010 yakni tumbuh 9,8%.

Perlambatan ekonomi China ini diprediksi akan berlangsung hingga tahun depan. Dari sisi eksternal, permintaan global yang terus memburuk menjadi penekan terhadap perekonomian China. Consensus Forecast Bloomberg menunjukkan bahwa hingga kuartal III tahun 2012 ini pertumbuhan Ekonomi Dunia masih melambat menjadi 1,66%. Dari kondisi domestik China,  terbatasnya penyaluran kredit kepada perusahaan kecil dan kurangnya pembiayaan terhadap proyek – proyek infrastruktur yang sudah disetujui turut menekan pertumbuhan ekonomi China. Selain itu, ketegangan yang terjadi dalam hubungan Jepang dengan China turut memperburuk keadaan. Melemahnya Shanghai Composite Index sebesar 4,6% di penutupan pekan lalu (21/9) diduga merupakan respon pelaku pasar China yang menemukan indikasi sektor manufaktur yang masih akan berkontraksi di kuartal III 2012. Menurut penasihat People’s Bank of China (PBOC), ekonomi China diperkirakan hanya tumbuh 7,3% – 7,4% di kuartal 4 dan 7 – 7,5% di kuartal I 2013. Hal ini berlawanan dengan prediksi pengamat – pengamat lain yang memperkirakan perekonomian China akan rebound di kuartal IV tahun 2012. China dianggap membutuhkan tambahan stimulus untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Mengikuti langkah yang dilakukan oleh bank sentral negara lain di dunia.

Prediksi perlambatan perekonomian China ini perlu diantisipasi oleh pemerintah untuk mencegah defisit neraca perdagangan Indonesia kembali melebar. Nilai ekspor non-migas Indonesia ke China hingga bulan Juli mencapai USD 1,53 miliar dan kontribusinya merupakan yang terbesar terhadap total nilai ekspor non-migas Indonesia yakni mencapai 13,36%. Melambatnya permintaan dari perekonomian global terhadap ekspor China tentu akan mempengaruhi jumlah ekspor Indonesia yang sebagian besar merupakan bahan baku. Selain itu, China tentu akan mencari pasar alternatif bagi produksi mereka ke negara yang masih baik dan prospektif pertumbuhannya seperti Indonesia sehingga dikhawatirkan impor barang konsumsi Indonesia juga akan meningkat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s