Economy

Inflasi di Bulan November menurun menjadi 0,07% MoM (5 Desember 2012)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi pada bulan November 2012 sebesar 0,07% MoM, jauh lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 0,24% MoM dan dari bulan Oktober 2012 sebesar 0,16% MoM. Kenaikan harga daging yang cukup signifikan akhir – akhir ini tampaknya impas oleh penurunan kelompok bahan makanan lain seperti daging ayam, cabai merah, dan ikan segar. Secara YoY, inflasi melaju sebesar 4,32%, lebih rendah dibandingkan dengan bulan Oktober yang sebesar 4,60% dan dibawah ekspektasi pasar sebesar yang sebesar 4,50%. Jika dilihat secara tahun kalender inflasi selama Januari – November 2012 mencapai 3,73%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2011 yang hanya sebesar 3,20%.

Inflasi bulan november terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikkan indeks pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,20% MoM, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,15% MoM, kelompok kesehatan sebesar 0,21% MoM, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,06% MoM, dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,23% MoM. Sementara kelompok bahan makanan dan kelompok sandang mengalami deflasi masing – masing sebesar 0,13% MoM dan 0,10% MoM. Dari kelompok pengeluaran tersebut, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau dan kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan bakar merupakan kelompok baranga yang memberikan inflasi terbesar yakni sebesar 0,08%

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada bulan November 2012 antara lain bawang merah, beras, tarif angkutan udara, daging sapi, bawang putih, wortel, telur ayam ras, nasi dengan lauk, rokok kretek filter dan upah tukang bukan mandor. Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga adalah daging ayam ras, cabai merah, ikan segar, cabai rawit, minyak goreng, emas perhiasan, buncis, kacang panjang, kangkung,  ketimun, tomat buah dan bensin.

Inflasi bulan Desember diprediksi akan lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan November. Inflasi yang diprediksi meningkat ini akibat adanya hari raya natal dan tahun baru yang akan meningkatkan kebutuhan akan bahan pangan olahan. Dimulainya musim penghujan diduga juga akan menghambat distribusi barang sehingga dapat mempengaruhi harga bahan makanan. Selain itu, inflasi Desember juga akan mendapat tekanan dari dampak kenaikan Upah Minimum Provinsi dan tarif listrik di awal tahun depan sehingga akan menyebabkan ekspektasi inflasi pada bulan Desember meningkat. Meskipun adanya tekanan di bulan Desember, diperkirakan inflasi kumulatif tahun ini hanya sebesar 4,1%, sesuai dengan target inflasi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yang sebesar 4,5 ± 1%

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s