Economy

Rencana Pemerintah dalam Pembatasan Konsumsi BBM Bersubsidi (15 Maret 2013)

Pemerintah saat ini sedang menyusun rencana untuk mengendalikan tingginya konsumsi BBM bersubsidi agar tidak kembali lebih dari yang dianggarkan dalam APBN seperti yang terjadi di tahun 2012. Jumlah konsumsi BBM bersubsidi sejak 2009 trennya terus meningkat. Konsumsi BBM bersubsidi di tahun 2009 baru sebesar 37 juta kiloliter. Namun, di tahun 2012 ini konsumsi BBM bersubsidi telah meningkat sebesar 24% menjadi 46 juta kiloliter. Seiring dengan konsumsi tersebut, jumlah realisasi subsidi BBM pun juga meningkat dari 45,03 triliun rupiah di tahun 2009 menjadi 211,9 triliun rupiah di tahun 2012 yang berarti terjadi peningkatan sebesar 414%. Peningkatan ini cukup signifikan karena secara historis harga minyak dunia pun meningkat tajam sejak 2008 dari USD 44,6 per barel menjadi USD 91,8 di tahun 2012 yang berarti terjadi peningkatan sebesar 106%. Memang kita juga memperoleh tambahan penerimaan negara karena Indonesia juga memproduksi minyak bumi, namun setiap kenaikan harga minyak USD 1 per barel, negara hanya mendapatkan tambahan penerimaan sekitar USD 314 juta sedangkan di sisi lain beban subsidi BBM meningkat jauh lebih tinggi yakni sekitar USD 500 juta. Hal ini terjadi karena konsumsi Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan produksinya sehingga Indonesia telah menjadi net importer minyak bumi.

Opsi – opsi yang dimungkinkan untuk membatasi BBM bersubsidi antara lain menaikkan harga BBM bersubsidi, melarang penggunaan BBM bersubidi bagi kendaraan pribadi, dan menyalurkan subsidi tidak kepada komoditasnya (BBM), namun kepada orangnya. Hal tersebut masih dalam tahap kajian pemerintah hingga saat ini. Namun sepertinya pemerintah tidak akan memilih opsi menaikkan harga BBM bersubsidi dan lebih memilih cara tidak konvensional seperti konversi minyak tanah ke elpiji beberapa waktu lalu untuk menekan konsumsi minyak tanah. Beberapa pertimbangan pemerintah antara lain kenaikan harga BBM bersubsidi berimplikasi terhadap stabilitas harga, inflasi, serta adanya tekanan politik menuju pemilu 2014. Namun di sisi lain, jika pemerintah melakukan cara selain menaikkan harga BBM dan hal tersebut kembali tidak efektif seperti langkah pemerintah sebelumnya, hampir dapat dipastikan konsumsi BBM bersubsidi akan kembali melebih kuota dalam APBN 2013. Hal ini akan menguras APBN 2013. Selain itu impor migas kita akan kembali meningkat dan akan mempengaruhi neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan. Perlu diketahui, neraca perdagangan migas Indonesia menyentuh defisit terdalam sepanjang sejarah di tahun 2012 kemarin dengan jumlah defisit USD 5,7 miliar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s