Economy

Ringkasan Prospek Industri Batubara 2013 (Special Report)

Jika melihat performa di tahun 2012, sebenarnya permintaan dari 4 besar negara tujuan ekspor Indonesia (share 70% dari total ekspor Indonesia) hanya Korea Selatan yang mengalami penurunan. Impor batubara China masih tumbuh 29% yoy, India (estimasi) masih tumbuh 17,5%, dan Jepang 5,6%. Nemun memang jika kita melihat share batubara Indonesia dalam komposisi Impor batubara mereka, di tahun 2012 ini share kita mengalami penurunan di China dan Jepang. Untuk proyeksi permintaan ke depan, diperkirakan jumlah impor batubara China tahun ini sedikit menurun dikarenakan arbitrase harga batubara impor di tahun ini tidak akan setinggi di tahun lalu karena harga batubara domestik China akan menurun dan suplai domestik dari batubara China sendiri akan meningkat karena infrastruktur perkeretaapian untuk distribusi batubara China akan onstream sebagian di pertengahan tahun ini. Impor batubara Jepang juga diperkirakan akan menurun karena kembali beroperasinya sebagian pembangkit listrik nuklir. Hanya India dan Korea Selatan yang diperkirakan impor batubaranya akan meningkat karena PLTU batubara India banyak akan beroperasi di tahun ini dan Korea Selatan yang pertumbuhan konsumsi listriknya diproyeksi akan meningkat.
Dari permintaan domestik sendiri, tahun ini diharapkan pembangkit – pembangkit FTP tahap 1 akan mulai beroperasi sebagian besar di tahun ini. Jika ini berhasil, permintaan domestik Indonesia diperkirakan akan meningkat di 2014.

Jumlah produksi batubara Indonesia di tahun 2012 sebenarnya cukup mengejutkan karena tetap meningkat dibandingkan di tahun 2011 meskipun ada tekanan harga internasional. Memang jika di lihat pertumbuhannya, turun cukup jauh dibandingkan di tahun 2011 yang tumbuh 28,5% sedangkan di tahun 2012 pertumbuhannya hanya 8,9%. Untuk proyeksi di tahun  2013 ini, pemerintah menetapkan proyeksi sebesar 391 juta ton, tetap tumbuh namun hanya 1,6% dibandingkan dengan produksi di tahun 2012.  Jika kita melihat performa perusahaan batubara, dari 9 perusahaan besar (Adaro, KPC, Kideco, Arutmin, Berau, PTBA, Indominco, Mahakam Sumber Jaya, dan Trubaindo) yang menguasai 55% pangsa pasar produksi batubara di Indonesia, 4 diantaranya mengalami penurunan jumlah produksi. Tampaknya memang penurunan harga di tahun 2012 ini cukup berdampak hingga perusahaan – perusahaan batubara besar. Proyeksi ke depan mengenai suplai, diperkirakan perusahaan batubara besar akan tetap meningkatkan jumlah produksinya untuk menutupi pengurangan pendapatan karena harga yang turun. Dari produksi IUP, diperkirakan akan menurun signifikan akibat tekanan harga yang tidak dapat menutupi biaya produksi mereka.

Dari segi harga dan biaya produksi, penurunan harga batubara terhadap emiten – emiten cukup signifikan. Average Selling Price hampir semua emiten mengalami penurunan rata – rata 9,6% di 3Q12. Namun emiten juga mengambil langkah yang cukup strategis saya kira untuk mengefisiensikan cash cost per ton  produksi batubara mereka. Gejala ini terlihat dari pertumbuhan cash cost emiten yang berbeda signifikan di tahun 2011 dengan 3Q12. pertumbuhan cash cost emiten yang saya ambil sampel di tahun 2011 dibandingkan dengan 2010 rata – rata mencapai 28%. sedangkan untuk 3Q12 ini dibandingkan dengan tahun 2011, pertumbuhan rata – rata hanya mencapai 3,5%. Gejala dari stripping ratio mereka pun menunjukkan mereka menekan pertumbuhan stripping ratio-nya. Untuk proyeksi harga ke depan, diperkirakan belum ada katalis yang sangat kuat untuk menopang kenaikan harga batubara. Tingkat inventory China yang masih cukup tinggi, belum stabilnya pertumbuhan ekonomi dunia, serta masih tingginya suplai batubara dunia masih menjadi tekanan yang cukup signifikan bagi harga batubara. Dari consensus forecast bloomberg pun memperkirakan harga rata – rata batubara Newcastle Spot 6.700 kcal/kg di tahun 2013 ini hanya USD 95,6/Mt, dengan harga tertinggi di USD 99/Mt yang prediksinya baru akan dicapai di akhir tahun.

Ada beberapa isu mengenai hambatan produksi yang akan terjadi di tahun 2013 – 2014. Pertama adalah mengenai penyamarataan royalti IUP dengan PKP2B. Pemerintah berniat menyamaratakan pungutan royalti antara IUP dengan PKP2B dengan cara menaikkan royalti yang dipungut dari IUP sehingga sama dengan PKP2B. Status saat ini, IUP dipungut royalti paling besar hanya 7%, sedangkan PKP2B mencapai 13,5%. Jika regulasi ini diberlakukan, production cost dari IUP akan meningkat cukup tinggi. Hal ini akan menambah berat pelaku usaha pemegang IUP jika harga batubara tidak kembali mengalami kenaikan. Sekedar informasi, komposisi biaya royalti terhadap biaya produksi batubara emiten dalam laporan keuangannya rata – rata mencapai 17,5% dari total biaya produksi. Kedua adalah adanya renegosiasi pertambangan untuk menyesuaikan dengan amanat UU no.4 tahun 2009 bagi KK dan PKP2B. Permasalahan yang paling merugikan menurut saya adalah mengenai pembatasan luas wilayah pertambangan operasi produksi yang diperbolehkan bagi pelaku usaha pertambangan. Bagi pertambangan batubara, luas wilayah operasi produksi yang diperbolehkan hanya mencapai 15.000 Ha. Jika melihat data di tahun 2011, PKP2B yang memiliki luas wilayah lebih dari 15.000 ha masih cukup dominan. Ada 20 perusahaan dari total 77 perusahaan yang memiliki luas diatas 15.00 Ha. Rata – rata luas wilayah yang dimiliki oleh 20 PKP2B tersebut mencapai 36.941 Ha dengan luas wilayah terbesar mencapai 118.400 Ha. Jika peraturan ini diberlakukan, dampaknya adalah akan terjadi penurunan nilai cadangan dari perusahaan batubara yang dapat menurunkan nilai perusahaan secara keseluruhan. Ketiga, pemerintah berencana untuk melarang ekspor batubara berkalori rendah yakni dibawah 5.100 kcal/kg atau hingga dibawah 5.700 kcal/kg. Jika regulasi ini benar diberlakukan, batubara jenis lignit tidak akan bisa lagi di ekspor. Melihat performa ekspor batubara jenis lignit di tahun 2012, proporsinya adalah sebesar 10% dari total keseluruhan ekspor batubara. Potensi nilai ekspor yang akan hilang dari adanya regulasi ini mencapai USD 1,8 miliar. Pemerintah juga berencana untuk melakukan penjatahan ekspor batubara agar jumlah ekspor dapat dikendalikan di tahun 2014. Mekanismenya adalah menetapkan batas bawah dan batas atas volume penjualan batubara untuk ekspor. Dampak jika peraturan ini benar diberlakukan akan cukup signifikan mengingat 78% dari produksi batubara di tahun 2012 itu diekspor dan belum akan ada penyerapan dalam negeri yang cukup signifikan untuk menyerap produksi batubara dengan tingkat saat ini.

Secara overall, prospek industri batubara di tahun ini saya rasa masih tidak berbeda jauh dibandingkan dengan tahun lalu dimana masih akan ada tekanan harga ditambah lagi akan ada hambatan produksi dari sisi regulasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s